Sabtu, 12 Desember 2015

Sisi lain dari Karakter Bangsa



SISI LAIN DARI KARAKTER BANGSA

Disusun untuk memenuhi tugas artikel Kearifan Lokal mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan / 2 sks




Disusun Oleh:
UMMU AZIZAH (2225142280)


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015



Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Secara umum local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Berdasarkan fungsinya, kearifan lokal adalah pengetahuan asli (indigineous knowledge) atau kecerdasan lokal (local genius)suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai kemajuan komunitas baik dalam penciptaan kedamaian maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kearifan lokal itu mungkin berupa pengetahuan lokal, keterampilan lokal, kecerdasan lokal,  sumber daya lokal,  proses sosial lokal, norma-etika lokal, dan adat-istiadat lokal.
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai dan norma budaya yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat. Nilai dan norma yang diyakini kebenarannya menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari masyarakat setempat.
Kebudayaan dan kearifan lokalnya memang tidak langsung memberikan untung secara ekonomis, tetapi secara perlahan-lahan kearifan lokal sebagai warisan masa lalu itu akan memberikan manfaat untuk pembentukan peningkatan kesejahteraan dan kedamaian rakyat melalui karakter yang kuat generasi mudanya.
Kearifan lokal hanya akan abadi kalau kearifan lokal terimplementasikan dalam kehidupan konkret sehari-hari sehingga mampu merespons dan menjawab arus zaman yang telah berubah. Dengan demikian, kearifan lokal akan efektif berfungsi sebagai senjata yang membekali masyarakatnya dalam merespons dan menjawab arus zaman. Menggali  dan melestarikan berbagai unsur kearifan lokal, tradisi dan pranata lokal, termasuk norma dan adat istiadat yang bermanfaat,  dapat berfungsi secara efektif dalam pendidikan  karakter, sambil melakukan kajian dan pengayaan dengan kearifan-kearifan baru. Jadi sisi lain dari kearifan lokal ini adalah sebagai basis pembentukan karakter. Karena dalam pendidikan karakter, kearifan lokal sangat berperan penting.
Karakter adalah sikap dan cara  berpikir, berperilaku, dan berinteraksi sebagai ciri khas seorang individu dalam hidup, bertindak, dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat maupun bangsa. Karakter merupakan keseluruhan nilai-nilai, pemikiran, perkataan, dan perilaku atau perbuatan yang telah membentuk diri seseorang. Karakter itulah nilainya, pemikirannya, kata-katanya, tindakannya. Karakter itu menjadi bagian identitas diri seseorang sehingga karakter dapat disebut sebagai jatidiri seseorang yang telah terbentuk dalam proses kehidupan memalui sejumlah nilai-nilai etis yang dimilikinya, berupa pola pikir, sikap, dan perilakunya.
Secara singkat, pendidikan karakter menjadikan orang yang hati, pikiran, raga, dan rasa-karsanya baik. Betapa bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan makmur sesuai dengan amanat UUD’45 jika tercipta generasi yang memiliki karakter tersebut di atas. Jika generasi muda memiliki karakter tersebut di atas, tidak ada lagi kemiskinan karena masyarakat sudah disiplin dan bekerja keras,  tidak ada lagi konflik karena masyarakat cinta damai, cinta tanah air, dan toleransi, tidak ada lagi ketidakadilan karena masyarakat sudah demokratis dan peduli sosial, dan tidak ada lagi korupsi karena masyarakat sudah jujur dan religius. Itulah harapan bangsa ini, tetapi persoalannya sekarang adalah bagaimana cara dan metodenya menjadikan generasi muda memiliki karakter tersebut dan darimana sumber sebagai basis pembentukan karakter tersebut.
Apabila diperhatikan  uraian di atas, tampaklah bahwa karakter yang dirumuskan para ahli pendidikan atau pembangunan karakter di atas relevan dengan kearifan lokal, yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya bangsa kita. Dengan demikian, pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Persoalannya sekarang, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa. Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa. Di sinilah pentingnya kajian tradisi budaya untuk mendapatkan kearifan lokal sebagai warisan leluhur kita. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Atas dasar itu, karakter bangsa yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong, tidak bias gender, peduli lingkungan, sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif,  sopan santun,  jujur, setiakawan sosial, suka bersyukur, dan hidup rukun.
Pendidikan karakter berarti pendidikan kepribadian yang cinta kesejahteraan dan cinta kedamaian. Cinta kesejahteraan didasari oleh kearifan lokal inti etos kerja (core local wisdom of work ethics), sedangkan cinta kedamaian didasari kearifan lokal inti kebaikan (core local wisdom of goodness). Sebaiknya, semua cakupan karakter di atas diajarkan dan diterapkan sejak pendidikan dini terutama pendidikan informal di rumah.
Meskipun para ahli menyebutkan ada beberapa pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, namun perlu digarisbawahi bahwa nilai-nilai luhur itu harus berasal dari nilai-nilai budaya leluhur kita yang menjadi kearifan lokal dalam komunitas kita. Karakter itu boleh saja bertujuan universal, tetapi berasal lokal atau berdampak global, namun berawal lokal. 
Siapakah yang akan membangun karakter itu dalam diri kita sehingga kita menjadi orang berkarakter arif atau bijaksana? Jawabannya adalah kita sendiri yang berusaha mengetahuinya, menyukainyanya, dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari apapun kegiatan dan pekerjaaan kita.  Membangun karakter pada diri sendiri berarti memahami nilai dan kearifan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Sibarani, Robert. 2013. “Pembentukan Karakter Berbasis Kearifan”. [Online]. http://www.museum.pusaka-nias.org/2013/02/pembentukan-karakter-berbasis-kearifan.html  (diakses pada 05 Desember 2015)
Pramono, Agung. 2010. “IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI PENDIDIKAN DASAR: STUDI KARAKTER NASIONALISME TOKOH KARNA DALAM TRIPAMA KARANGAN KGPAA MANGKUNEGARA IV”,Jurnal Pendidikan Karakter, vol.10, no.4, H.64-74. http://ejournal.ikippgrimadiun.ac.id/sites/default/files/3.4_Agung%20Pramono_Implementasi%20Local%20Wisdom%20dlm%20Pendidikan%20Karakter%20di%20Dikdas.pdf
Fajarini, Ulfah. 2010. “PERANAN KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER”, Jurnal Pendidikan karakter, vol.8, no.1, H.1-8. http://digilib.uin-suka.ac.id/9950/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Logika dan Kehidupan



LOGIKA DAN KEHIDUPAN

Ummu Azizah
Universitas Sultan Ageng tirtayasa

ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk menelaah tentang logika yang berperan dalam kehidupan sehari-hari. Logika tidak mempelajari cara berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat dan praktis. Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkan hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir benar, efisien dan teratur. Logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Logika sebagai cabang dalam filsafat ilmu menuntun kita untuk berpikir benar dan tidak salah dalam mengambil keputusan. Selain itu berpikir secara logika mampu melatih kita untuk berpikir secara lurus, efisien, tepat dan teratur demi mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan dalam pemecahan suatu masalah. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita lakukan haruslah dipikrkan dan mengacu logika yang berperan penting dalam tindakan dikehidupan sehari-hari.
Kata kunci:  logika, kehidupan

Ilmu kita pelajari karena manfaat yang hendak kita ambil, lalu apakah manfaat yang didapat dengan mempelajari logika? Bahwa keseluruhan informasi keilmuan merupakan suatu sistem yang bersifat logis, karena itu science tidak mungkin melepaskan kepentingannya terhadap logika.
Sebagai suatu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Banyak permasalah dihadapan kita yang dapat kita cari solusinya dengan cara menggunakan logika. Tetapi tidak semua masalah dapat kita selesaikan dengan menggunakan logika. Apaka sah jika semua permasalahan dalam hidup ini kita selesaikan dengan menggunakan logika?
Dengan demikian saya mengangkat peran logika dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan bahasan dalam makalah ini. Dengan harapan mampu menjadi bahan bacaan yang menarik dan mengandung daya positif.
Logika berasal dari kata Yunani Kuno yaitu Logos yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan atau alat untuk berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai logika Epiteme (Latin: logika scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kecakapan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan kedalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Oleh karena itu logika terkait erat dengan hal-hal seperti pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.
Logika sebagai ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain yang telah diketahui (Premis) yang nanti akan diturunkan kesimpulan.
Logika juga merupakan suatu ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek, hal ini yang menyebabkan logika disebut dengan filsafat yang praktis. Dalam proses pemikiran, terjadi pertimbamgan, menguraikan, membandingkan dan menghubungkan pengertian yang satu dengan yang lain. Penyelidikan logika tidak dilakukan dengan sembarang berpikir. Logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan atau ketepatannya. Suatu pemikiran logika akan disebut lurus apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan yang sudah ditetapkan dalam logika. Dari semua hal yang telah dijelaskan tersebut dapat menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pedoman atau pegangan untuk berpikir.
Logika membantu  manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan dengan argumen.
Pengertian ilmu logika secara umum adalah ilmu yang mempelajari aturan-aturan berpikir benar. Jadi dalam logika kita mempelajari bagaimana sistematika atau aturan-aturan berpikir benar. Subjek inti ilmu logika adalah definisi dan argumentasi. Yang selanjutnya dikembangkan dalam bentuk silogisme. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegunaan logika adalah sebagai berikut:
1.       Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2.      Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3.      Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4.      Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
5.      Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan.
6.      Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7.      Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa ).
8.     Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
Karena yang dipelajari dalam ilmu logika hanyalah berupa aturan-aturan berpikir benar maka tidak otomatis seseorang yang belajar logika akan menjadi orang yang selalu benar dalam berpikir. Itu semua tergantung seperti apa dia menerapkan aturan-aturan berpikir itu, disiplin atau tidak dalam menggunakan aturan-aturan itu, sering berlatih, dan tentu saja punya tekad dalam kebenaran.
Kegunaan dari kita belajar logika adalah daya analisis kita semakin bertambah dan dimana apabila ada suatu masalah, kita dapat mengambil keputusan dengan benar. Disamping itu belajar logika juga sangat bermanfaat dalam manajemen waktu, dan juga logika merupakan dasar ilmu psikologi yang paling mendasar. Intinya dengan belajar logika kemampuan berpikir dan daya analisis kita semakin berkembang.

DAFTAR PUSTAKA
Alatas, Adesbog. 2013. “Filsafat Logika Sebagai Cabang Ilmu Filsafat”. [Online]. http://adesmedia.blogspot.co.id/2013/02/filsafat-logika-sebagai-cabang-filsafat.html(diakses pada 05 Oktober 2015)
Yonesa. 2015. “Hubungan Filsafat dengan Logika”. [Online]. http://yonesamz.blogspot.co.id/2015/05/hubungan-filsafat-dengan-logika.html(diakses pada 05 Oktober 2015)




Percaya Diri


Semua orang pasti setuju bahwa sikap percaya diri adalah penting untuk ditumbuhkan dalam usaha membangun SDM yang berkualitas. Percaya diri dapat membuat seseorang menjadi bersemangat untuk melakukan sesuatu yang ia merasa bisa, dan dapat membuatnya berprestasi dalam bidang yang ditekuninya.
Namun orang sering menyalah-artikan sikap percaya diri yang berlebihan dengan sikap tinggi hati atau sombong. Mungkin kita perlu membedakan antara sikap percaya diri yang benar dan yang palsu.  Ada orang yang kelihatannya terlalu “PD” (percaya diri), sehingga ia menganggap dirinya hebat, tidak mau dikritik oleh orang lain, atau sering membanggakan apa saja yang dimilikinya atau yang dikerjakannya.  Sikap PD seperti ini adalah sikap PD yang palsu dan tidak sehat.  Orang yang bersikap seperti ini biasanya juga akan bersikap mau menang sendiri, tinggi hati, meremehkan orang lain, dan bahkan bersikap agresif.  Ironisnya, orang yang mempunyai sikap seperti ini sebetulnya adalah orang yang tidak mempunyai percaya diri, karena ia selalu mencari pertahanan dan pembenaran akan kehebatan dirinya.
Sedangkan sikap PD yang benar adalah sikap yang tahu akan kemampuan dan kelemahannya, sehingga ia merasa nyaman dengan keadaan dirinya, menghargai dirinya, ia dapat menerima kritikan dari orang lain, bisa mengakui keberhasilan orang lain, dan tidak perlu membangga-banggakan apa yang telah dilakukan atau apa yang dimilikinya.  Bukan berarti ia tidak bangga dengan apa yang dilakukannya, tetapi rasa kebanggaan ini akan diekspresikan seperlunya, atau tidak berlebihan.  Orang yang mempunyai PD yang benar biasanya adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengerjakan tugasnya, menghormati orang lain, mempunyai motivasi tinggi, dan toleran terhadap perbedaan.
Singkatnya, sikap PD yang palsu atau tinggi hati (sombong) adalah justru refleksi dar sikap orang yang tidak percaya diri. Ia sebenarnya minder sehingga ia merasa harus mempertahankan dirinya, dan cenderung menganggap orang lain sebagai ancaman bagi dirinya. Orang lain selalu dianggap sebagai saingan, sehingga ia tidak senang kalau ada orang lain yang berhasil, sehingga cenderung orang seperti ini akan sulit memuji dan menghargai prestasi orang lain. Biasanya pula, orang yang bersikap PD palsu adalah orang yang mempunyai kelemahan pada dirinya sehingga ia merasa perlu untuk menutupi kelemahannya.  Persis seperti sebuah pepatah “tong kosong berbunyi nyaring”. 
Oleh karena itu, sikap PD yang benar adalah seperti ilmu padi “semakin berisi semakin merunduk ke tanah”, yang artinya ia akan rendah hati, dan tidak perlu membanggakan apa yang dimilikinya.
http://ihf-org.tripod.com/pustaka/SIKAPPERCAYADIRIYANGBENAR.htm