Senin, 09 November 2015

Pahamilah teori ini




Teori belajar disebut juga dengan psikologi belajar yaitu teori yang mempelajari perkembangan intelektual (mental) siswa. Di dalamnya terdiri atas dua hal: pertama adalah uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak, dan yang kedua adalah uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu.
Teori belajar perlu kiranya untuk diketahui dan dipahami untuk kemudian menjadi dasar dalam melaksanakan proses pembelajaran. Para tokoh-tokoh terkemuka telah mengemukakan beberapa teori belajar yang mendasari pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah pembelajaran berdasarkan teori psikologi kontruktivisme.Makna konstruktivisme adalah pandangan berdasarkan bahwa, kita semua harus memahami diri kita sendiri, kita mengembangkan pemahaman kita sepanjang hidup terus menerus, dan melalui usaha kita sendiri dan wawasan yang kita miliki.
A.     Psikologi Tingkah Laku
1.      Teori belajar Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon atau yang lebih dikenal dengan teori uji coba. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya ia memperoleh tiga buah hukum dalam belajar yang utama. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon, yaitu:
·         Law of effect(hukum efek), menyatakan bahwa tercapainya keadaan yang memuaskan akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respoon. Maksudnya, bila respons terhadap stimulus menimbulkan sesuatu yang menimbulkan sesuatu yang memuaskan / mengenakkan, maka bila stimulus itu muncul lagi subjek akan memberikan respons yang lebih cepat, tepat, dan intens.
Ilustrasi : seorang anak bisa mengerjakan soal soal matematika, maka akan timbul kepuasan dalam dirinya. Sehingga memori menegenai materi matematika tersebut akan tersimpan lebih lama.
·         Law of axercise (hukum latihan), menyatakan bahwa respons terhadap stimulus dapat diperkuat dengan seringnya respons itu dipergunakan. Hal ini menghasilkan implikasi bahwa pratik, khususnya pengulangan dalam pelajaran adalah penting dilakukan.
Ilustrasi : seorang siswa ingin mahir dalam pelajaran matematika, maka dia melakukan banyak latihan seperti mengerjakan banyak soal meskipun masih sering salah. Namun lama kelamaan ia akan mahir terhadap pelajaran tersebut.
·         Law of readiness(hukum kesiapan), mengajarkan bahwa dalam memberikan respons subjek harus siap dan disiapkan. Hukum ini menyangkut syarat kematangan dalam pengajaran, baik dalam pengajaran fisik maupun mental dan intelek.
Ilustrasi : sebelum memulai kegiatan belajar, seorang guru haruslah menyiapkan segalanya, seperti menyiapkan materi, kesiapan psikis dan fisik, percaya diri, dan menyapa siswwanya agar siap menerima pelajaran

2.      Teori balajar Skinner
Skinner mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurutnya hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.
Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah karena perlu penjelasan lagi.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat.
Ilustrasi :
Seorang Pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif.
Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. Contohnya seorang siswa disuruh mengerjakan soal didepan, jika benar maka guru akan memberi penguatan positif (seperti tambahan nilai, hadiah atau apapun). Jika salah, guru tidak akan memarahinya melainkan tetap memberi penguatan (positif), yaitu dengan memberinya motivasi agar tetap semangat.
3.      TeoriBelajarAusubel
Menurutausubel (1968) siswaakanbelajardenganbaikjikaapa yang disebut “PengaturKemajuanBelajar” (advance organizer) ,didefinisikandandipresentasikandenganbaikdantepatkepadasiswa. Pengaturkemajuanbelajaradalahkonsepatauinformasiumum yang mewadai (mencakup) semuaisipelajaran yang akandiajarksnkepadasiswa.
Ausubelpercayabahwaadvance organizerdapatmemberikan 3 ma
nfaat,yaitu:
·         Dapatmenyediakansuatukerangkakonseptualuntukmateribelajar yangakandipelajariolehsiswa.
·         Dapatberfungsisebagaijembatan yang menghubungkanantaraapa yang sedangdipelajarisiswa “saatini” denganapa yang “akan” dipelajarisiswa.
·         Mampumembantusiswauntukmemahamibahanbelajarsecaralebihmudah.
4.      TeoriBelajar Gagne
Robert M. Gagne adalahseorangahlipsikologi yang banyakmelakukanpenelitianmengenaifase-fasebelajar, tipe-tipekegiatanbelajar, danhirarkibelajar.Gagne menyatakanbelajarmerupakankegiatan yang kompleks.Setelahbelajar orang memilikiketerampilan, pengetahuan, sikap, dannilai.Dengandemikianbelajaradalahseperangkat proses kognitif yang mengubahsifat stimulus lingkungan, melewatipengolahaninformasi, menjadikapabilitasbaru.
Menurut Gagne, dalambelajarmatematikaadaduaobjek yang dapatdiperolehsiswa, yaitu:
·         Objeklangsung, kemampuanmenyelidikidanmemecahkanmasalah, belajarmandiri, bersikappositifterhadapmatematika, dantahubagaimanamestinyabelajar
·         Objeklangsungberupa:
-        Faktaadalahobjekmatematika yang tinggalmenerimanya, seperti lambing bilangan, sudut, dannotasi-notasimatematikalainnya.
-        Keterampilan adalah kemampuanmemberikanjawabandengantepatdancepat, misalnyamelakukanpembagianbilangancukupdenganbagikurung, menjumlahkanpecahan, melukissumbusebuahruasgaris.
-        Konsepadalah ide abstrak yang memungkinkankitadapatmengelompokkanobjekdalamcontoh. Misalnya, konsepbujursangkar, bilangan prima, himpunandan vector.
-        Proseduradalahaturan-aturan yang digunakanuntukmemperolehhasiltertentu.
5.      Teori Pavlov
            Teori belajar Pavlov terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan percobaan terhadap seekor Anjing. Anjing itu dikurung, dalam suatu kandang waktu tertentu dan diberi makan. Selanjutnya setiap akan diberi makan, Pavlov membunyikan bel. Ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan pada jangka waktu tertentu anjing itu mengeluarkan air liurnya (Salivation) meskipun tidak diberi makan. Dari percobaan ini, daging disebut dengan stimulus yang tidak terkondisikan (unconditioned stimulus), dan bel disebut stimulus netral (neutral stimulus). Menurut eksperimen Pavlov, jika stimulus netral (bel) dipasangkan dengan daging (unconditioned stimulus) dan dilakukan secara berulang-ulang, maka stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang terkondisikan (conditioning stimulus) dan memiliki kekuatan yang sama untuk mengarahkan respons anjing seperti ketika ia melihat daging. Proses ini disebut classical conditioning.
            Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan (conditioning). Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Ilustrasi:
Agar siswa mengerjakan soal pekerjaan Rumah dengan baik, bisasakanlah untuk memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.
Contoh lain adalah seorang siswa diberi PR terus menerus sehingga sianak akan terbiasa mengerjakannya. Maka si anak akan bisa karena biasa mengerjakannya. Jadi walaupun dia belajar materi tersebut sudah lama, namun ia akan tetap mengingat materi tersebut.
6.      Teori Belajar Bandura
Albert Bandura menyatakan bahwa belajar itu didasarkan dengan proses mental yang ia kembangkan dengan teori belajar sosial kognitif.Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik) - dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip – prinsip teori – teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat – isyarat perubahan perilaku, dan pada proses – proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran social kognitif, kita akan menggunakan penjelasan – penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan – penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana belajar dari orang lain.
Albert Bandura terkenal dengansalah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Ia seorang psikologi yang terkenal dengan teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri. Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan oleh Albert Banduramenyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta factor perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, factor social mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya. Albert Bandura merupakan salah satu perancang teori kognitif social.
Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat merepresentasikan atau mentrasformasi pengalaman mereka secara kognitif. Bandura mengembangkan model deterministik resipkoral yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu:
·         Perilaku
·         Person/kognitif, mempengaruhi perilaku. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan
·         Lingkungan, mempengaruhi perilaku.

B.     Psikologi Kognitif
1.   Teori Piaget
            Piaget merupakan salah satu tokoh yang mengembangkan teori Konstruktivisme. Menurut Piaget adalah suatu schemata atau kumpulan skema-skema. Perkembangan skema ini berlangsung terus-menerus melalui adaptasi dengan lingkungannya. Didalam otak kita terbagi menjadi beberapa skema skema bahkan sangat banyak.Atau lebih dikenal dengan perkembangan mental anak (pengorganisasian pengetahuan). Hal ini akan sangat mempengaruhi efektivitas penyerapan pengetahuan. Proses terjadinya adaptasi schemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru dilakukan ini melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi.
·         Asimilasi, yaitu proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara langsung.
Ilustrasi : seorang siswa membaca sebuah buku, maka ia akan menerima pembelajaran baru. Pengetahuan baru tersebut akan masuk kedalam otak yang secara otomatis akan terbentuk skema didalam otaknya.
·         Akomodasi, yaitu proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung. Hal ini terjadi karena stimulus baru tidak dapat diasimilasi, karena tidak ada skema yang sesuai yang telah dimiliki.
Ilustrasi : seorang siswa telah belajar geometri di SMA dan sudah mempunyai skema geometri didalam otaknya, ketika di perguruan tinggi ia menerima kembali pelajaran geometri tersebut atau yg lebih rumit. Jika materi di PT tersebut sesuai dengan materi SMA maka akan masuk kedlam skema yang sudah ada (keseimbangan / equibrasi). Jika tidak sesuai atau bertentangan dengan skema yang sudah ada maka akan membentuk skema baru atau bahkan bisa jadi beririsan (disequibrasi / tidak seimbang). Ketidakseimbangan tersebut akan terus menerus terjadi dan berkembang hingga membuat skema sendiri dan mendapat ilmu lain yang terlepas dari ilmju sebelumnya.
      Piaget mengemukakan bahwa untuk dapat memahami materi, seorang siswa harus balajar sendiri, sebab jika terus menerus dikasih tau maka menurutnya siswa akan mudah melupakan materi tersebut. Ada empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu yang berkembang secara kronologis (menurut usia kalender) :
-          Tahap sensori motor, dimulai dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun. Pengalaman diperoleh melalui pengalaman fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indera).
-          Tahap Pra Operasi, dimulai dari sekitar umur 2 tahun sampai dengan sekitar 7 tahun dan merupakan tahap persiapan untuk pengoperasian operasi konkrit, yaitu berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek, menata letak benda-benda menurut urutan tertentu, dan membilang.
-          Tahap Operasi Konkrit, Anak-anak yang berada pada tahap ini umumnya sudah berada di Sekolah Dasar. Anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan mengklasifikasi dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang objektif, dan mampu berpikir reversible.
-          Tahap Operasi Formal, Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung. Penalaran yang terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan symbol-simbol, ide-ide, abstraksi, dan generalisasi.
2.      Teori Belajar Bruner
Teori kognitif berfokus pada kemampuan pikiran untuk memahami dunia. Berpikir, keyakinan, harapan, dan perasaan mempengaruhi apa dan bagaimana kita belajar. Kognitif melihat pengetahuan sebagai hasil pembelajaran dan kekuatan pengetahuan sebagai motivator pada pembelajaran orang dewasa.
Teori belajar yang dipopulerkan Bruner disebut discovery learning. Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajar anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental, yaitu:
·         Tahap Enaktif, pada tahap ini, anak secara langsung terlihat menggunakan atau memanipulasi (mengotak-atik) objek-objek konkret secara langsung.
·         Tahap Ikonik, pada tahap ini kegiatan anak didik mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek konkret. Anak didik sudah dapat memanipulasi dengan memakai gambaran dari objek-objek yang dimaksud.
·         Tahap Simbolik, tahap ini merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan objek-objek. Selanjutnya berkembang belajar melalui media visual seperti gambar, grafik, peta, foto, dan sebagainya. Pada tahapan berikutnya, seorang anak memiliki kemampuan menerima informasi melalui kata-kata verbal.
3.      Teori Brownell
Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian. Dia menegaskan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Bila kita perhatikan, teori yang dikemukakan Brownell ini sesuai dengan teori belajar-mengajar Gestalt, yang muncul di pertengahan tahun 1930.
Menurut Brownell anak-anak yang berhasil dalam mengikuti pelajaran pada waktu itu memiliki kemampuan berhitung yang jauh melebihi anak-anak sekarang. Banyaknya latihan yang diterapkan pada anak dan latihan mengasah otak dengan soal-soal yang panjang dan sangat rumit merupakan pengaruh dari doktrin disiplin formal.
Implikasi teori perkembangan kognitif Brownell dalam pembelajaran sebagai berikut:
·         Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.
·         Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
·         Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
·         Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
·         Siswa hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan siswa lain.
Pengaplikasian teori kognitif Brownell dalam belajar bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui saja dengan adanya area baru, siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasikan.
4.      Teori Gestalt
            Gestalt memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Dalam pelajaran guru jangan memberikan konsep yang harus diterima begitu saja, melainkan harus lebih mementingkan pemahaman terhadap terbentuknya konsep tersebut daripada hasil akhir. Atau lebih sederhananya adalah seseorang yang diberi masalah akan menggunakan instingnya untuk memecahkan maslah tersebut karena ia tidak tahu harus melakukan apa.
      Dalam percobaanya, Gestalt menggunakan Simpanse. Simpanse tersebut dikurung didalam kandang dan dalam keadaan lapar, ia meletakkan pisang diluar kandangnya yg cukup jauh (atas), namun dalam kandang tersebut ia menyediakan beberapa kotak yg jika ditumpuk akan dapat mencapai pisang tersebut, namun ia tidak memberitahu caranya. Dalam hal ini simpanse dituntut untuk menggunakan instingnya.
      Untuk hal ini, guru bertindak sebagai pembimbing dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses melalui metode induktif. Beberapa prinsip belajar penting yang dilahirkan dari Teori Gestalt adalah :
·Permasalahan yang muncul dijadikan stimulus untuk belajar, sehngga dia mampu memecahkannya.
·Tugas yang diberikan tidak membuat frustasi / bisa dipecahkan dengan belajar lebih/ mencari informasi.
·Belajar harus dikaitkan dengan minat dan tujuannya.
·Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya
·Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
·Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
·Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
·Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
·Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
·Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
·Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
5.      Teori Belajar Dienes
Dienes percaya bahwa semua abstraksi didasarkan pada intuisi dan pengalaman konkret, maka dari itu sistem dalam pembelajaran matematika menekankan pada mathematics laboratories, memanipulasi objek, dan permainan matematika. Menurut Dienes, konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap, sebagai berikut:
·         Free Play (permainan bebas).Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Pada tahap ini struktur dan bakat mental siswa dibentuk yang mana disiapkan untuk memahami konsep struktur matematika .
·         Games (permainan yang disertai aturan). Pada tahap ini siswa akan memulai mengobservasi pola dan keteraturan  yang diwujudkan dalam konsep.
·         Searching for communities (permainan kesamaan sifat). Pada tahap ini siswa belum mampu mengklasifikasikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep. Dienes menyarankan bahwa guru dapat membantu siswa melihat struktur communality dalam contoh dari konsep yang ditunjukan kepada siswa bagaimana tiap contoh dapat ditransfer kedalam tiap contoh yang lain tanpa merubah sifat abstrak yang umum dari semua contoh.
·         Representation (representasi), adalah tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Para anak didik menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. Representasi yang diperoleh bersifat abstrak. Dengan melakukan representasi anak didik telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang bersifat abstrak pada topik-topik yang sedang dipelajari.
·         Symbolization (simbolisasi), adalah belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal.
·         Formalization (formalisasi). Siswa harus memahami sifat dari konsep dan mengingat akibat dari sifat tersebut. Sifat dasar struktur matematika adalah sistem aksioma yang diambil dari sifat theorema dan prosedur. Pada tahap ini siswa dituntut menggunakan konsep untuk memecahkan masalah dan mengaplikasikan masalah dalam matematika.
Ia mengemukakan 6 hukum kekekalan, diantaranya:
-          Hukum kekekalan bilangan : banyaknya benda akan tetap walaupun diletakkan secara berantakan.
-          Hukum kekekalan materi : banyaknya air akan tetap walaupun dipindahkan ketempat yang berbeda.
-          Hukum kekekalan panjang : tali dengan panjang yang sama walaupun diletakkan berbeda (dibentang lurus dan ditekuk) akan tetap sama panjang.
-          Hukum kekekalan luas : luas yang ditutupi benda akan sama walaupun letak benda berbeda (persegi yang dimiringkan akan menjadi belah ketupat).
-          Hukum kekekalan berat : berat benda akan tetap walaupun bentuk berbeda (batu 1 kg dengan kapas 1 kg).
-          Hukum kekekalan isi : bak air yang berisi penuh dimasukkan suatu benda, maka banyaknya air yang tumpah sama dengan volume benda yang dimsukkan kedalam bak mandi tersebut.



6.      Teori Van Hiele
Teori belajar Van Hiele menguraikan tahap-tahap perkembangan mental anak dalam geometri. Menurut Van Hiele, tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu waktu, materi pengajaran dan metode pengajaran yang diterapkan. Jika ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir yang lebih tinggi. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat 5 tahap belajar anak dalam  geometri, yaitu:
·         Tahap pengenalan (visualisasi). Dalam tahap ini anak mulai belajar mengenai suatu bentuk geometri secara keseluruhan, dan belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu.
Ilustrasi:
Jika pada seorang anak diperlihatkan sebuah kubus, ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus tersebut. Ia belum menyadari bahwa kubus mempunyai sisi-sisi yang merupakan bujur sangkar, bahwa sisinya ada 6 buah, rusuknya ada 12 buah dan lain-lain.
·         Tahap analisis. Dalam tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki benda geometri yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri itu.
Ilustrasi:
Di saat ia mengamati persegi panjang, ia telah mengetahui bahwa terdapat 2 pasang sisi saling berhadapan, dan kedua pasang sisi tersebut saling sejajar. Dalam tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya. Misalnya, anak belum mengetahui bahwa bujursangkar adalah persegi panjang, bahwa bujursangkar adalah belah ketupat dan sebagainya.
·         Tahap pengurutan (deduksi informal). Pada tahap ini anak sudah mampu melaksanakan penarikan kesimpulan yang dikenal dengan pemikiran deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang secara penuh. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu mengurutkan.
Ilustrasi:
Ia sudah mengenali bahwa bujur sangkar adalah jajargenjang, bahwa belah ketupat adalah laying-layang. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjang.
·         Tahap deduksi. Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifatr khusus. Demikian pula ia telah mengerti betapa pentingnya peranan unsure-unsur yang tidak didefinisikan, disamping unsure-unsur yang didefinisikan.


Ilustrasi:
Anak sudah mulai memahami dalil. Selain itu, pada tahap ini anak sudah mulai mampu menggunakan aksioma atau postulat yang digunakan untuk pembuktian.
·         Tahap akurasi. Dalam tahap ini anak sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian.
Ilustrasi:
Ia mengetahui pentingnya aksioma-aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid.

7.      Teori Vygotsky
Menurut Vygotsky, belajar adalah sebuah proses yang melibatkan dua elemen penting. Pertama, belajar merupakan proses secara biologi sebagai dasar. Kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan esesnsinya berkaitan dengan lingkungan social budaya. Vygotsky sangat menekankan pentingnya peran interaksi social bagi perkembangan belajar seseorang. Pentingnya interaksi social dalam perkembangan kognitif telah melahirkan konsep perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif manusia ini berkaitan erat dengan perkembangan bahasanya.
Vygotsky percaya bahwa belajar dimulai ketika seorang anak dalam perkembangan zone proximal, yaitu suatu tingkat yang dicapai oleh seorang anak ketika ia melakukan perilaku social. Zone ini juga dapat diartikan sebagai seorang anak yang tidak dapat melakukan segala sesuatu sendiri tetapi memerlukan bantuan kelompok atau orang dewasa. Dalam belajar, zone proximal ini dapat dipahami pula sebagai selisih antara apa yang bisa dikerjakan seseorang dengan kelompoknya atau dengan bantuan orang dewasa. Maksimalnya perkembangan zone proximal ini tergantung pada intensifnya interaksi antara seseorang dengan lingkungan social.
Zona proksimal ini berada diantara tahap kemampuan aktual (bisa melakukan sendiri) dan tahap kemampuan potensial (butuh bantuan orang lain). Lebih sederhananya adalah seorang siswa sudah bisa belajar sendiri ketika dibantu / dibimbing oleh orang yang lebih tau maka akan mencapai tahap kemampuan potensial.
Implikasi teori belajar ini dalam pengajaran adalah meyakinkan bahwa pengajaran secara konstan dapat mendorong siswa dalam perkembangan kognitif mereka. Siswa-siswa memerlukan dukungan dari guru dan teman sejawatnya. Pengetahuan yang siswa peroleh melalui interaksi social dengan guru dan teman sejawatnya menjadi pengetahuan individu mereka. Siswa-siswa didorong untuk menggunakan bahasa mereka untuk mengorganisir pemikiran mereka dan menceritakan apa yang mereka lakukan.



DAFTAR PUSTAKA

ZADT, Sutarto. (2012). “Psikologi Pembelajaran Matematika”. [Online]. Tersedia: http://sutartomathlovers.blogspot.co.id/2012/03/psikologi-pembelajaran-matematika.html

Empi, Musyfiah. (2013). “Makalah Psikologi Pembelajaran Matematika”. [Online]. Tersedia: http://coffeefreze.blogspot.co.id/2013/03/psikologi-pembelajaran-matematika.html

Trisniawati. (2013). “Makalah Psikologi Belajar Matematika”. [Online]. Tersedia:http://trisniawati87.blogspot.co.id/2013/01/makalah-psikologi-belajar-matematika.html

KRIPTOGRAFI



         Mahasiswa yang kuliah dijurusan yang berhubungan dengan Matematika pasti tidak asing lagi dengan istilah "Kriptografi" . Untuk lebih jelasnya, saya akan menjelaskan apa itu Kriptografi?

A.    Definisi Kriptografi
Aritmetika modulo dan bilangan prima mempunyai banyak aplikasi dalam ilmu komputer, salah satunya yang terpenting adalah Kriptografi.
Kata kriptografi berasal dari bahasa Yunani, “kryptós” yang berarti tersembunyi dan “gráphein” yang berarti tulisan. Sehingga kata kriptografi dapat diartikan berupa frase “tulisan tersembunyi”. Kriptografi secara umun dapat diartikan sebagai seni menulis atau memecahkan cipher.
Dalam kamus bahasa Inggris Oxford diberikan pengertian kriptografi sebagai “Sebuah teknik rahasia dalam penulisan, dengan karakter khusus, dengan mengguanakan huruf dan karakter di luar bentuk aslinya, atau dengan metode-metode lain yang hanya dapat dipahami oleh pihak-pihak yang memproses kunci, juga semua hal yang ditulis dengan cara seperti ini”.
Pesan yang dirahasiakan dinamakan Plainteks (teks jelas yang dapat dimengerti), sedangkan pesan hasil penyandian disebut Cipherteks (teks tersandi). Pesan yang disandikan dapat dikembalikan lagi ke pesan aslinya hanya oleh orang yang berhak  (orang yang mengetahui metode penyandian atau memiliki kunci penyandian). Proses menyandikan plainteks menjadi cipherteks disebut Enkripsi dan proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteksnya disebut Dekripsi.
Kriptografi digunakan untuk dua aplikasi (pengiriman data melalui saluran komunikasi dan penyimpanan data didaalam disk storage. Data ditransmisikan melalui saluran komunikasi dalam bentuk cipherteks dan dikembalikan lagi menjadi plainteks ditempat penerima cipherteks. Sedangkan data didalam media penyimpanan disimpan dalam bentuk cipherteks. Untuk membacanya, hanya orang yang berhak yang dapat membalikkannya menjadi plainteks.
B.     Sejarah Kriptografi
Informasi yang lengkap mengenai sejarah kriptografi dapat ditemukan di dalam buku David Kahn yang berjudul The Codebreakers, yang menulis secara rinci sejarah kriptografi mulai dari penggunaan kriptografi oleh Bangsa Mesir 4000 tahun yang lalu (berupa hieroglyph yang terdapat pada piramid) hingga penggunaan kriptografi pada abad ke-20. Secara historis ada empat kelompok yang berkontribusi terhadap perkembangan kriptografi, dimana mereka menggunakan kriptografi untuk menjamin kerahasiaan dalam komunikasi pesan penting, yaitu kalangan militer (termasuk intelijen dan mata-mata), kalangan diplomatik, penulis buku harian, dan pencinta (lovers).
Kriptografi telah lama digunakan oleh tentara Sparta di Yunani pada permulaan tahun 400 SM. Mereka menggunakan alat yang disebut scytale, yang terdiri dari sebuah pita panjang dari daun papyrus yang dililitkan pada sebatang silinder. Pesan yang akan dikirim ditulis horizontal (baris per baris). Bila pita dilepaskan maka huruf-huruf didalamnya telah tersusun membentuk pesan rahasia. Untuk membacanya, penerima melilitkan kembali silinder yang diameternya sama dengan diameter silinder pengirim. Teknik ini dikenal denagn nama transposisi cipher yang merupakan metode enkripsi tertua.
C.     Kriptanalisis dan Kriptologi
Kriptanalisis adalah ilmu dan seni yang memecahkan cipherteks menjadi plainteks tanpa mengetahui kunci yang diberikan. Jadi Kriptanalisis adalah kebalikan dari Kriptografi. Pelakunya disebut kriptanalis.Kriptologi adalah studi mengenai kriptografi dan kriptanalisis.

CODING



           Sebagian mahasiswa Matematika maupun komputer atau jurusan lain mendapat mata kuliah pemrograman pasti tidak asing dengn istilah "Coding". Saya akan menjelaskan pengertian dari Coding secara umum.
Apa Itu Coding ? Disini saya akan membahas Coding secara garis besar saja. Coding jika di istilahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Pemrograman. Bahasa yang digunakan oleh OS(Operating System) dalam melakukan suatu tugas tertentu disebut Coding. Karena dalam komputer hanya mengenal yang namanya Bahasa Biner yaitu bilangan 1 dan 0, maka manusia sulit untuk mengerti bahasa ini maka dari itu di buatlah bahasa tingkat tinggi yang dimengerti oleh manusia yang di sebut bahasa pemrograman hight level.
Coding bertujuan untuk membuat program komputer, dan program komputer itu sendiri adalah kumpulan instruksi-instruksi dalam membantu sebuah komputer dalam mengeksekusi untuk melakukan aktifitas tertentu. Banyak bahasa pemrograman yang sering digunakan untuk membuat sebuah program komputer, seperti VB(Visual Basic), Java, PHP dan masih banyak bahasa pemrograman komputer lainnya.
Jika sudah mengerti dan memahami jalan algoritma, sudah pasti pemrograman akan mudah untuk kita buat tanpa harus banyak menemui kendala, ada pun kendala pasti akan lebih mudah untuk di cari solusi atau jalan keluarnya.

Dibalik pengetahuan Filsafat



CIRI – CIRI FILSAFAT
Ciri-ciri filsafat secara umum ada tiga, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Menyeluruh disini berarti pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan tidak hanya ditinjau dari satu sudut pandang tertentu. Sehingga terdapat hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lainnya, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup. Mendasar artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi filsafat tidak hanya berhenti pada kulit-kulitnya saja, tetapi juga sampai menembus ke kedalama-dalamnya (hakikat). Dan Spekulatif berarti hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran berfilsafat selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menelusuri  bidang-bidang pengetahuan yang baru.
Selanjutnya terdapat ciri-ciri berfilsafat atau berpikir filsafat. Yang pertama, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Radikal. Berpikir secara radikal yaitu berpikir sampai ke akar-akarnya, bsampai kepada hakikat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi. Yang kedua, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Universal (umum). Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum dan tidak memikirkan hal-hal yang parsial. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia. Dengan jalan penelusuran yang radikal itu filsafat berusaha sampai pada berbagai kesimpulan yang universal. Yang ketiga, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Konseptual. Maksud dari konsep di sini adalah hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Dengan ciri yang konseptual ini, berpikir secara kefilsafatan melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstrak dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Proses-proses yang dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri dan hal hal yang dipikirkan ialah si pemikir itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya. Yang keempat, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Koheren dan Konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir (logis). Pemikiran filsafat merupakan suatu usaha perenumgan rasional yang runtut dan mendalam terhadap suatu hal yang dipikirkan oleh akal budi. Manusia bukan berpikir asal-asalan  atau berpikir setengah hati saja, melainkan perlu mengerahkan seluruh pikirannya secara fokus, terarah, terorientasi, terkonsentrasi pada obyek yang dipikirkan agar mencapai hasil akhir pemikiran yang benar secara filosofis. Sedangkan konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. Yang kelima, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Sistematik. Sistematik berasala dari kata sistem, yang berarti kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Yang keenam, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Konperehensif. Konperehensif berarti mencakup secara menyeluruh. Berpikir secara konperehensif berusaaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan. Yang ketujuh, berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara Bebas. Sampai batas-batas yang luas makasetiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari segala prasangka sosial, historis, kultural ataupun religius. Yang terakhir dan kedelapan, berpikir secara kefilsafatan dicirikan dengan pemikiran yang Bertanggungjawab. Seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil bertanggungjawab terhadap hati nuraninya sendiri (tampaklah hubungan antara kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya) dan cara bagaimana ia merumuskan berbagai pemikirannya agar dapat dikomunikasikan pada orang lain.
Filsafat juga berciri visioner, yaitu pandangan/ pemikiran/ visi terhadap suatu kenyataan dunia dan diri kita sendiri. Kita tidak mungkin memiliki pandangan terhadap sesuatu jika kita tidak dapat berefleksi secara benar terhadapnya. Hanya orang yang merenung/berefleksi secara benar yang akan mampu menghasilkan ide-ide cermelang tentang dunia dan manusia. Orang yang dapat memberikan pandangan dunia dan dirinya itu sudah termasuk dalam pemikiran filosofis. Seseorang filsuf biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Ia mampu melakukan prediksi rasional sekarang atas segala fenomena hidup yang terjadi di masa depan. Dengan visi ini filsuf memberikan harapan hidup bagi manusia dan membuka horizon perspektif makna untuk memperkaya kualitas ziarah intelektual sebagai manusia di planet bumi ini. Filsuf ibarat obor yang menerangi jalannya dinamika kehidupan manusia di planet bumi ini.



PERBEDAAN MACAM SUMBER PENGETAHUAN
Menurut bahasa Indonesia, pengetahuanadalah sebagai sejumlah informasi yang diperoleh melalui pengamatan, pengalaman (empiri) dan penalaran (rasio). Pengetahuan tentu berbeda dengan ilmu. Ilmu lebih menitikberatkan pada aspek teoritis dengan syarat proses teoritisasi dari sejumlah pengetahuan yang dimiliki manusia.
Rasa ingin tahu dan penasaran telah menyebabkan manusia terdorong untuk berpikir. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya disebabkan oleh bahasa untuk berkomunikasi dan kemampuan berpikir manusia. Rasa heran yang mendorong seseorang peneliti untuk mengadakan penelitiannya yang merupakan sumber-sumber penemuan ilmiah.
Ada duajenis pengetahuan yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan (perasaan, pikiran, pengalaman, panca indera dan intuisi) untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek-objek dan cara kegunaannya. Jenis pengetahuan ini disebut knowledge. Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu. Dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis,landasan epistemologis dan landasan aksiologis. Macam-macam sumber pengetahuan tersebut antara lain:
a.       Rasionalisme (Pikiran)
Rasionalisme yaitu pikiran manusia dengan berpendapat bahwa sumber satu-satunya dari pengetahuan manusia adalah rasio atau akal budaya. Rasional juga menganggap bahwa ilmu lahir dari induk sebuah penalaran dan mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Ukuran kebenaran menurut sumber ini diukur dari apakah gagasan itu benar-benar memberikan pengetahuan kepada manusia atau tidak.
b.      Empirisme
Empirisme adalah sebuah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang diperoleh dengan cara observasi atau penginderaan. Selain itu, pengalaman juga disebut sebagai faktor yang fundamental dalam pengetahuan, karena ia merupakan sumber pengetahuan yang ada di dalam diri manusia, yang didapat melalui pengalaman yang kongkret.
Empirisme juga berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan indrawi dan empiris merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Pengalaman tersebut adalah akibat seuatu objek yang merangsang alat-alat indrawi, yang kemudian dipahami didalam otak, dan rangsangan tersebut mengakibatkan terbentuknya atau munculnya tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat indrawi tadi. Dan empirisme juga memegang peranan yang sangat penting bagi pengetahuan.
c.       Intuisi
Intuisionisme artinya langsung melihat, dengan pendapat tentang sumber pengetahuan adalah manusia mempunyai kemampuan khusus untuk mengetahui yang tidak terikat kepada indra maupun penalaran.
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Sebagian dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan.
Intuisi dianggap jadi sumber pengetahuan karena manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung tanpa melalui proses penalaran tertentu, dari intuisi secara tiba-tiba menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi.
Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan kebenaran. Pengalaman intuitif sering hanya dianggap sebagai sebuah halusinasi atau bahkan sebuah ilusi belaka. Sementara itu oleh kaum beragama intuisi (hati) dipandang sebagai sumber pengetahuan yang mulia.
Kemampuan intutif bagi seorang seniman dianggap penting, Terutama untuk memutuskan berbagai pekerjaan kompleks tanpa harus melampaui perhitungan dan pembuktian lapangan.
Jadi, Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Seperti pemahaman itu tiba-tiba saja datang dari dunia lain dan diluar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, di dalam buku tersebut ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama bertahun-tahun. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psikologi, tetapi sebagian intuisi bisa dijelaskan sebabnya.
d.      Wahyu
Wahyu adalah sumber pengetahuan yang bersandar pada Tuhan sebagai sang Maha Ilmu. Sumber pengetahuan yang disebut “ wahyu” identik dengan agama atau kepercayaan yang sifatnya mistis.
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang di utusannya sepanjang zaman. Melalui wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah penegetahuan baik yang terjangkau ataupun tidak terjangkau oleh manusia).
Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat trasendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akherat nanti. Pengetahuan ini didasarkan pada kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.
e.       Kritisme
Kritisme adalah orang orang yang tidak bisa menerima keempat sumber pengetahuan yang ada.

KAITAN SUMBER PENGETAHUAN DENGAN SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana berpikir ilmiah bagian dari sumber pengetahuan karena mencakup bahasa, matematika, dan statistika, dengan bahasa untuk mengemukakan pikiran / pendapat secara kualitatif, matematika untuk mengembangkan pendapat yang dikemukakan melalui bahasa menjadi numerik dengan pengukuran kuantitatif, dan statistika untuk menarik kesimpulan dari pemikiran yang telah diungkapkan dalam bentuk data statistik

Minggu, 01 November 2015

Tahukah kamu?


          Sebagai warga negara yang baik kita harus menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia terutama di wilayah kita sendiri.  Maka tidak akan ada yang namanya pencurian kebudayaan Indonesia oleh bangsa asing, jika kita sendiri (bangsa Indonesia) mau menjaga dan melestarikannya.
          Salah satu cara untuk melestarikannya adalah terlebih dahulu kita mengenal apa apa saja budaya yang ada di Indonesia dan di wilayah kita. Disini saya akan menjelaskan kebudayaan yang ada didaearah saya, yaitu di Banten.
          Banten sebagai komunitas kultural mempunyai kebudayaannya sendiri yang di tampilkan lewat unsur- unsur kebudayaan. Kebudayaan suatu daerah merupakan identitas bagi daerah tersebut. Banten, Provinsi yang dulunya termasuk ke dalam daerah Jawa Barat ini sebenarnya adalah sebuah Provinsi kecil dengan banyak sekali pesona kesenian. Kilasan singkat di bawah ini hanya sebagian kecil saja dari kesenian-kesenian yang ada di Banten, yang tentunya patut untuk terus kita jaga dan lestarikan. Langsung aja, check this out!



·        Debus


          Mungkin sebagian dari kita jika mendengar kata “Banten” pasti yang akan pertama kali muncul di pikiran adalah “Debus”, sebuah atraksi kesenian yang bernuansa magis.  Ya, Debus memang merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang ada sejak abad ke-16. Bentuk Atraksi permainan debus merupakan bentuk kesenian yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa mistis. Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk hiburan masyarakat.

          Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan, yaitu pembacaan sholawat dan dzikir yang diiringi musik dari alat musik tabuh lalu  dilanjutkan dengan beluk, yaitu lantunan nyanyian dzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Uniknya, bersamaan dengan beluk  atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya, seperti menusuk perut dengan gada (semacam senjata), makan api, memasukkan jarum ke dalam lidah, kulit pipi dan anggota tubuh lainnya sampai tembus, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur, dan masih banyak lagi. Hebatnya, semua ini dilakukan tanpa menyebabkan luka sedikitpun pada tubuh pemain yang melakukan atraksi debus ini.

          Hal lain yang perlu diingat adalah debus tidak ada kaitannya dengan dunia mistis, tidak seperti anggapan orang kebanyakan. Selama ini Debus dianggap berkaitan erat dengan dunia mistis yang bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal, Debus digunakan oleh ulama zaman dahulu untuk melawan penjajah dan atraksinya pun dimulai dengan pembacaan doa dan shalawat Nabi. Debus merupakan kesenian tradisional dari banten yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Jadi, kita pun harus turut melestarikan dan mengembangkan kesenian Debus, yang menjadi ciri khas kebudayaan Banten yaaaa !!


·        Rampak Bedug, Kolaborasi Tabuh Bedug dan Tarian
 
          Kata “Bedug” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga bangsa Indonesia. Seperti di Banten, Bedug hampir terdapat pada setiap masjid. Rampak Bedug adalah salah satu kesenian yang hanya terdapat di daerah Banten. Kata “Rampak” memiliki arti “serempak” dan juga “banyak” jadi Rampak Bedug adalah seni menabuh bedug yang ditabuh secara serempak sehingga menghasilkan irama yang enak di dengar. Rampak Bedug pertama kali dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Namun karena seni rampak bedug ini mengundang banyak penonton, maka kesenian ini menjadi sering ditampilkan dalam suatu acara pementasan.
         Pada zaman dahulu, pemain rampak bedug semuanya laki-laki, namun sekarang kesenian ini bisa dilakukan olah perempuan dan laki-laki. Biasanya pemain laki-laki sebagai penabuh bedug sekaligus kendang dan pemain perempuan sebagai penabuh bedug. Baik pemain laki-laki dan perempuan juga berfungsi sebagai penari. Busana yang dipakai oleh pemain Rampak bedug adalah pakaian muslim yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Biasanya pemain laki-laki mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Sedangkan untuk perempuannya memakai pakaian khas tradisional, seperti rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan didalamnya mamakain celana panjang sejenis celana panjang pesilat.


·        Keindahan Pantai Pesisir Barat


           Salah satu keunikan Banten adalah keindahan pantainya terutama pantai di pesisir barat antara Anyer hingga Labuan. Banyaknya pilihan pantai mulai dari pantai berpasir putih, pantai dengan ombak yang deras hingga pantai berkarang menjadikan pantai pesisir barat Banten terkenal baik secara Nasional bahkan ke Mancanegara.

           Anda tak perlu khawatir jika ingin berlibur ke sana. Karena mulai dari resort biasa hingga mewah, hotel kelas melati hingga kelas berbintang dapat anda sambangi di sana.


·        Taman Nasional Ujung Kulon


          Tempat ini adalah salah satu tempat unik dan paling terkenal di Propinsi Banten. Taman Nasional yang sekaligus Suaka Margasatwa bagi badak bercula satu yang konon populasinya hanya tinggal 60 ekor di tempat seluas 25.000 hektar tersebut ternyata merupakan satu-satunya habitat bagi Badak Jawa.

           Di sana pula, kalian dapat menemukan banyak keindahan alam seperti air terjun, pantai berpasir putih, sumber mata air panas dan peninggalan berupa Arca Ganesha di Pulau Panaitan.


·        Suku Baduy


          Suku yang hidup di wilayah pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten atau yang sering di sebut orang Kanekes atau Rawayan ini adalah salah satu suku terunik yang dimiliki Bangsa Indonesia. Bayangkan, mereka hidup terisolir di rimbunnya hutan ujung barat pulau jawa. Keteguhan yang teramat tinggi dalam menjaga adat-istiadat kehidupannya membuat suku ini sering menjadi perbincangan baik bagi para peneliti maupun masyarakat sekitar Banten.

Jika kalian memasuki perkampungan suku ini, terlihat amat jelas harmonisasi mereka dengan alam, seperti rumah-rumah mereka yag masih terbuat dari kayu dan bambu tanpa paku. Selain itu, mereka menolak masuknya modernisasi ke perkampungan mereka.


           Inilah beberapa contoh dari sekian banyak kesenian unik yang berasal dari Banten. Lain waktu, akan dibahas kesenian unik lainnya oke! Oh ya terakhir dan yang paling penting, sudah seharusnya kita sebagai warga Indonesia khususnya daerah Banten ikut menjaga dan melestarikan kesenian yang menjadi ciri khas Banten ini. Jika bukan kita, siapa lagi?